Sudah bukan lagi masanya untuk menjadi remaja pasif! Setelah mulai sekitar
20 tahun lalu cara belajar siswa aktif dikampanyekan pemerintah, kini jadi
remaja aktif tentu sudah seakan gerak reflek bagi Anda semua.
Salah satu keaktifan yang perlu Anda pelajari dan latih adalah ketrampilan
berbicara di depan umum. Anda sekarang mungkin sering menderita demam panggung
jika diperintah maju oleh guru. Gemetar, keringat dingin keluar, dan bicara pun
tergagap-gagap. Nah, inilah saatnya Anda mengobati demam panggung itu.
Bicara di depan umum merupakan ketrampilan yang sangat berguna. Anda perlu
memilikinya. Apalagi kita adalah muslim yang diwajibkan berdakwah. Gimana kalo
suatu hari nanti Anda ditunjuk untuk memberi ceramah? Karena itu, ketrampilan
bicara di depan umum perlu kita pelajari dan dilatih.
Berikut ini langkah-langkah praktis yang mungkin dapat membantu untuk
meningkatkan kemampuan berbicara efektif, sehingga apabila ada kesempatan
ditunjuk menjadi pembicara tidak lagi terjadi ‘demam panggung’, tetapi justru
menyenangkan.
Siap Sebelum Bicara
Ada 6 hal yang perlu dipersiapkan dalam berbicara efektif, yaitu: mengapa,
siapa, di mana, kapan, apa dan bagaimana.
Mengapa: Menetapkan
Sasaran
Hal pertama yang harus jelas dalam pikiran Anda sebagai pembicara adalah
menetapkan sasaran pembicaraan. Penetapan sasaran sangat membantu dalam
menentukan arah pembicaraan dan juga bermanfaat dalam memilih bahan yang sesuai
dengan sasaran.
Pada umumnya sasaran pembicaraan dapat dikelompokkan berdasarkan tujuan,
misalnya presentasi tugas, memimpin rapat, mengisi kajian, dan sebagainya.
Siapa: Pendengar
Meneliti apa dan siapa pendengar dapat membantu dalam menetapkan bahan yang
akan disampaikan dan meyakinkan diri Anda bahwa Anda menyampaikan bahan
pembicaraan kepada pendengar yang tepat.
Hal yang perlu diketahui dari bidang pendengar antara lain :
1. Berapa banyak orang yang hadir?
2. Mengapa mereka hadir di ruang tersebut?
3. Bagaimana tingkat pengetahuan yang mereka miliki atas topik pembicaraan?
4. Apa harapan mereka atas topik pembicaraan?
5. Bagaimana usia, pendidikan, dan jenis kelamin mereka?
Di Mana: Tempat dan
Sarana
Penting bagi Anda untuk mengetahui dan memperhatikan tempat pembicaraan akan
dilaksanakan.
Berikut ini beberapa hal yang perlu menjadi perhatian bagi pembicara :
1. Melakukan praktek
Apabila pembicaraan dilaksanakan pada ruang yang besar dan luas, maka akan
lebih baik untuk mencoba suara terlebih dahulu, sebelum betul-betul berbicara
di depan sidang pendengar.
2. Mempelajari sarana yang tersedia
Sangat bermanfaat, bila Anda lebih dahulu melakukan latihan untuk dapat
mengoperasikan tombol-tombol lampu, slide projector, dan OHP (Over Head
Projector).
3. Meneliti gangguan yang mungkin timbul
Anda perlu mewaspadai gangguan yang mungkin timbul, misalnya pembicaraan
dilakukan dekat jalan raya sehingga suaramu harus dapat mengalahkan suara
kendaraan yang lewat.
4. Tata letak tempat duduk
Tata letak tempat duduk perlu diperhatikan, diatur, dipersiapkan, dan dikaitkan
dengan sasaran pembicaraan.
Kapan: Waktu
Berapa lama waktu yang diperlukan dalam pembicaraan? Anda perlu
memperhatikan manajemen waktu.
1. Waktu penyelenggaraan sangat mempengaruhi
Biasanya, waktu sesudah makan siang dikenal sebagai waktu ‘kuburan’. Pendengar
yang sudah makan kenyang, apalagi jika makanan yang disajikan enak rasanya,
akan membuat pendengar lebih tertarik untuk ‘berngantuk ria’ daripada
mendengarkan pembicaraan.
2. Berapa lama waktu yang digunakan
Anda perlu memperhatikan waktu, misalnya waktu untuk pembahasan, waktu
istirahat, atau waktu tanya jawab. Agar punya manajemen waktu yang baik, maka
perlu latihan terlebih dulu.
3. Masalah konsentrasi
Sangat sulit bagi pendengar untuk berkonsentrasi penuh selama lebih dari 2 jam.
Apalagi bila mereka merasa bahwa pembicaraan Anda tidak menarik, tidak
bermanfaat, dan tidak berminat. Umumnya seseorang dapat berkonsentrasi penuh
pada 20 menit di awal pembicaraan, setelah itu konsentrasi akan menurun sedikit
demi sedikit.
Apa: Bahan yang Akan
Digunakan
Agar sasaran pembicaraan dapat dicapai, maka persiapan bahan perlu dilakukan.
Berikut ini beberapa saran dalam pemilihan bahan:
1. Menyusun dan memilih bahan
Susunlah pokok-pokok pembicaraan. Sebaiknya pada 45 menit pertama jangan
terlalu banyak pokok-pokok yang akan disampaikan.
Dalam pemilihan bahan perlu diperhatikan: sasaran pembicaraan, waktu yang
tersedia, pendengar, mana bahan yang harus diberikan dan bahan yang tidak perlu
diberikan.
2. Gunakan contoh
Sederhanakan informasi yang sulit dan kompleks. Gunakan juga contoh-contoh yang
benar-benar terjadi dan kaitkan dengan pokok-pokok yang ingin disampaikan.
3. Membuka dan menutup pembicaraan
Dalam membuka pembicaraan perlu dirancang agar dapat menimbulkan minat
pendengar, dapat menimbulkan rasa butuh dari pendengar, dapat menjelaskan garis
besar dan sasaran pembicaraan. Dalam menutup pembicaraan, Anda harus dapat
menyimpulkan hal-hal yang telah dibicarakan.
4. Membuat catatan-catatan apa yang ingin dibicarakan.
Beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengingat urut-urutan dalam
pembicaraan adalah membuat catatan tertulis dengan menggunakan kartu-kartu atau
kertas kecil. Hal yang dituliskan dalam kartu sebaiknya kata-kata kunci saja
dan waktu yang digunakan untuk membicarakan apa yang tertulis di setiap kartu.
Bagaimana: Teknik
Penyampaian
Penggunaan kata merupakan basis komunikasi, tetapi dalam kenyataannya
keberhasilan dalam pembicaraan tidak hanya ditentukan dari penggunaan kata
saja, tetapi justru penggunaan nonkata. Bicara di depan umum yang berhasil
seharusnya memenuhi persentase kontribusi sebagai berikut :
7%: penggunaan kata
38%: penggunaan nada dan suara
55%: penggunaan ekspresi muka, bahasa tubuh, dan gerakan tubuh
1. Pemilihan kata
Kata-kata yang digunakan sebaiknya disesuaikan dengan taraf pendengar, begitu
juga penggunaan istilah. Sadari bahwa penggunaan kata-kata yang tidak tepat
akan menimbulkan masalah.
2. Teknik penyampaian berita
Tidak banyak orang yang mampu menyampaikan berita dengan efektif. Hal-hal yang
perlu diperhatikan dalam menyampaikan berita, antara lain:
Gunakan ekspresi dan intonasi yang tepat.
Diam sejenak untuk membantu peserta agar dapat mencerna materi yang sudah
diterima.
Bicara dengan jelas dan teratur.
Bicara dengan volume memadai.
3. Bahasa tubuh
Di samping penyampaian dengan menggunakan kata, maka kesuksesan dalam
pembicaraan justru bergantung pada hal yang non kata, seperti: gerakan tubuh, tangan,
kontak mata, cara berdiri, dan ekspresi muka. Jangan terpaku di satu tempat seperti
patung atau sibuk membaca catatan.
Berikut ini beberapa saran untuk mengatasi masalah tersebut, antara lain :
1. Tatap mata pendengar
Kontak mata pembicara adalah vital untuk mengetahui apakah pendengar mengantuk,
bosan, tidak paham, atau nampak tidak tertarik serta untuk mempertahankan minat
pendengar atas apa yang Anda sampaikan.
2. Senyum
Manfaat dari tersenyum adalah mengendorkan ketegangan (menstabilkan mental).
3. Hindari membuat jarak
Anda perlu mendekatkan diri dengan pendengar. Kalau Anda bicara di depan kelas
yang pesertanya duduk, Anda bisa jalan-jalan di antara meja mereka. Berdiri di
belakang meja atau di belakang papan tulis akan menciptakan jarak dengan
pendengar.
4. Berdirilah yang tegak tapi tidak kaku
Berdiri tegak dan kaku, dapat menciptakan ketegangan.
5. Sadari kecenderungan untuk jadi pusat perhatian
Ini tidak berarti pembicara harus berdiri dengan kaku, tapi gerakan-gerakan
tangan perlu ada untuk yang ingin disampaikan. Hindari berlebihan menggunakan gerakan,
hindari juga mengulang kata-kata yang sama.
6. Berusahalah sewajar mungkin
Agar bisa bertingkah laku secara wajar, berhentilah untuk mencemaskan diri
sendiri. Cara yang efektif untuk bisa menjadi wajar adalah dengan latihan
bicara di depan kamera sehingga pembicara dapat melihat diri sendiri atau
bicara di depan teman-teman.
Meningkatkan Kualitas
Banyak cara yang dapat digunakan dalam rangka menghidupkan suasana pembicaraan,
apalagi bila waktu bicara cukup panjang. Beberapa cara yang dapat Anda gunakan
antara lain:
1. Partisipasi sidang pendengar
Metode diskusi kelompok, dengan cara membagi pendengar menjadi
kelompok-kelompok kecil dan kemudian setiap kelompok kecil diberi tugas,
pertanyaan, atau kuis kemudian diminta mempresentasikan jawabannya di depan
pendengar yang lain akan meningkatkan partisipasi pendengar dan menghidupkan
suasana.
2. Sesi untuk tanya jawab
Memberi kesempatan kepada peserta untuk mengajukan pertanyaan dapat menguji
apakah materi sudah dapat ditangkap dengan baik oleh pendengar.
3. Antusiasme
Tunjukkan antusiasme pembicara sewaktu menyampaikan materi.
4. Situasi yang menyenangkan
Ciptakan situasi yang menyenangkan dan tidak menegangkan/mengancam.
5. Pendengar yang ‘sulit’
Tidak seluruh pendengar adalah pendengar yang kooperatif dan positif, mungkin
saja ada peserta yang ‘sulit’. Sebaiknya, jangan menimbulkan pertentangan
langsung dengan peserta tersebut atau mempermalukannya di depan peserta lain.
6. Gunakan alat bantu
Alat bantu dapat mendukung pembicara dalam menyampaikan gagasan atau berita.
Tiga kelompok alat bantu yang dapat mendukung pembicaraan adalah menstimuli:
Visual, Hearing dan Feeling (VHF).
Visual : papan tulis, OHP, video
Hearing – efek suara
Feeling – makalah/hand out
Nah, itu tadi beberapa kiat agar Anda bisa jadi pembicara yang efektif di
depan umum. Sekarang, tinggal Anda mau melatih diri Anda atau tidak. Teori di
atas nggak berguna kalo Anda nggak melatih diri Anda. Seseorang dapat menjadi
pembicara yang handal karena banyak berlatih, kata-kata bijak mengatakan: bisa
karena biasa. Selamat mencoba…