Minggu, 07 Februari 2010

Jadilah Seperti Semut

Sobat pasti semua tahu binatang kecil ciptaan Allah yang mungkin sering keliling disekitar rumah kita. Yakni seekor semut. Apakah kita pernah berenung bahwa semut lebih baik dari pada manusia? Walapun manusia diciptakan oleh Allah sebaik-baiknaya makhluk dari semua makahluk ciptaaNya. Akan tetapi cobalah kita sepintas mengamati betul-betul, ketika ada semut lewat ada sebuah hikmah serta pelajaran yang dapat kita ambil dari sana.
Sobat, pertama coba kita amati ketika semut berjalan dan berbaris dengan sodara-sodaranya. Ketika mereka berjalan, mereka berjalan dengan rapi dan tertib, mereka pun saling menyapa, denagn sodara-sodaranya, saling bersalam-salaman dengan semua semut yang sedang berbaris disana. Sekarang masalhnya bagaimana dengan kita apakah kita sudah bisa menjadi seperti semut yang setiap ketemu dengan sodaranya dia selalu menyapa selalu bersalaman serta mengucapkan salam. Saya merasa masih banyak diantara kita yang tidak bisa seperti semut, yang selalu menujukan persaudaranya bahwa mereka adalah satu yang saling menyayangi, mengasihi serta tidak sombong. Misalnya saja dalam kehidupan sehari-sahari, kita belum bisa menciptakan rasa persaudaraan kita baik itu dengan sesama keluarga, sesama muslim atau sesama manusia. Masih banyak diantara kita hanya karena kebencian, keirian, kesombongan, serta kegoisan menjadikan kita angkuh hingga tidak memperdulikan sodara kita yang lain dan masih banyak juga adanya peperangan antar keluarga, sodara, atu suku. Kita ambil contoh saja yang sebuah masalah yang dihadapi sodara kita sesama muslim yang sampai sekarang mereka belum merasa keadamaian dalam hidupnya, karena, setiap harinya mereka selalu dihantui dengan sebuah peperangan dan kekerasaan yang dilakukan oleh orang kafir. Mereka adalah sodara kita yang ada dipalestina. Apakah kita merasakan pederitaan mereka yang selalu tidak tenang dalam hidupnya, ibadah tidak tenang, makan tidak tenang bahkan jarang makan karena tidak ada makanan, sedangkan kita tidak merasakan pendiritaan itu, kita disini senang-senag, bisa makan enak, tidur nenyak, bisa ibadah dengan tenang. Akan tetapi kita lupa kalau kita punya sodara yang memangil-mangil kita , meminta pertolongan dari kita. Ini seemua disebabkan Karena adanya sekat-sekat suatu wilayah, kita tidak merasa mereka sodara kita, yang harus kita bela dan kita bantu. Serta tidak adanya umat islam yang satu terutama tidak adaya hukum-hkum islam yang diterapkan secara sempurna, hingga kita tidak mempunyai kekuatan untuk melawan musuh-musuh islam tersebut. Lalu apa yang seharusnya kita lakukan? Apakah kita diam saja melihat sodara kita menderita? Apakah kita harus membelanya dengan menyusun kekutan?.. penderitan sodara kita disana tidak akan pernah usai sebelum kita umat islam sedunia bersatu untuk bisa menegkakan islam kembali muka bumi ini. Karena hanya tegaknya hukum –hukum islamlah yang akan membawa solusi, serta membawa kedamaian, kesejahteran bagi seluruh umat manusia. Serta persaudaran kita akan bisa terwujud seperti halnya binatang semut. Baik anatar sesama muslim, atau anatar sesama manusia.
Ada satu hal lagi yang terkadang kita tidak bisa seperti semut yang disekeliling rumah kita, coba kita amati lagi ketika ada gula yang tumpah atau secuil roti yang jatuh dilantai, tak lama kemudian pasti seekor semut akan datang mendatanginya. Dan coba kita amati, apakah pernah seekor semut ketika mendapat makanan terus dia makan sendiri tanpa memperdukan teman yang lain dan menyimpan makanan itu sendiri ditempat persembunyianya. Pastinya sesekor semut tersebut tidak akan mau makan makan tersebut sendirian, pasti dia akan memangil teman-temanya, dan teman-temanya pun akan datang. Dan saling berbagi makanan tersebut, bahkan ketika teman-temanya sudah datang mereka salaing bergotong royong mengakat makanan tersebut ketempat yang lebih aman agar mereka dapat memakan dengan tenang. Dari sekelompok semut itu, kita bisa ambil berapa hikmah bahwa diantara kita belum bisa seperti semut yang yang mempunyai sifat yang saling berbagai dengan sesamanya. Masih banyak diantara kita yang terkadang kita masih sayang dengan yang kita miliki walaupun sebenarnya semua yang kita miliki itu hanyalah merupakan titipan dari Allah. Tapi terkadang kita sombong dengan titipan itu. Sangking sombongnya kita tak pernah menoleh kebelakang, bahwa disana masih banyak yang membutuhkan dengan titipan yang kita bawa, sedangkan titipan itu kita pergunakan dalam hal yang kurang bermanfaat, dengan menghabur-haburkanya atau menimbunya hingga banyak agar kita terlihat kaya dihadapan orang-orang. Dan banyaknya kemiskinan, anak-anak terlantar, gelandangan, pengemis dijalanan pencurian. Itu akibat dari sekelompok orang yang egois, tidak menoleh kebelakang, tidak memerdulikan sesamanya, hidupya yang serba senag-senag penuh dengan kemewahan serta dia lupa bahwa yang dibawanya hanyalah sebuah titipan, yang akan diminata pertanggung jawaban bila dipergunakan dalam hal yang tidak bermanfaat, sedangkan diluar sana masih banyak yang membutuhkan. Apakah kau tidak memikirkan itu wahai sodaraku??? Apakah kita tidak malu dengan semut?? Yang mempunyai sifat yang saling berbagi dengan sesamanya saling membantu. Apakah kita akan seperti ini terus tidak memperdulikan sodara kita yang lebih membutuhkan kita?? Andai kau tahu wahai sodara ku sesunggunya kalu kita mau berbagi dengan sodara kita yang membutuhkan bantuan kita , insyaAllah, Allah akan menambah tuju kali lipat dari apa yang kita berikan. Diibaratkan sebuah biji padi yang ditanam, lama-kelaman padi itu akan bercabang dan menghasilkan biji padi yang sangat banyak jumblahnya. Anadaikan saja dinegri kita ini seperti itu, antraa si kaya dan si miskin tidak ada sekat, serta kesenjangan sosial dengan saling berbagi, memberi serta saling membantu. Pasti negeri kita akan sejahtera dan damai bahagia. Tapi kenyataanya sekarang malah sebaliknya?.. kita belum bisa seperti semut? Padahal kita makhluk Allah yang paling mulia dari pada seekor semut.





By : Nisa Shofia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar