ASMARA BERKELUD
28 Februari 2014 dalam sebuah diari
Nama gue Soni. Gue lahir 25 tahun lalu di kota Jakarta. Tapi anehnya gue sekarang tinggal di Malang. Ya, itu semua karena bokap gue pindah dinas. Sekarang, nasib gue sama kayak bokap. Gue ngikutin jejak beliau jadi salah satu TNI AD yang bertugas di Malang. Selama tugas, gue ngerasa gak ada yang special dari tugas gue. Sampe akhirnya, gue tersesat di Kediri, tepatnya di pengungsian warga yang terkena musibah Gunung Kelud.
***
16 Februari 2014
Dua hari pasca meletusnya gunung Kelud. Ratusan TNI AD di terjunkan untuk membantu warga membersihkan sisa-sisa pasir dan abu vulkanik yang menghalangi jalan dan rumah mereka. Rita Amalia melaporkan.
“mbah, ini sudah selesai semua”, kataku setelah membantu mbah Wati dan mbah Pras membersihkan rumah mereka dari pasir dan abu vulkanik.
Ya, aku sudah dua hari ini menginap di rumah mbah Wati dan Mbah Pras salah satu pasangan suami istri di desa Besowo Kepung Kediri. Awalnya aku kurang nyaman dengan kondisi rumah mereka yang ala kadarnya. Tapi, setelah mendengarkan semua cerita mereka tentang keluarga mereka dan warga sekitar, ada yang menarik hatiku.
Ya, aku tertarik dengan salah satu warga sekitar yang tidak lain adalah cucu perempuan mbah Wati.
***
17 Februari 2014
“soni, ayo solat dulu. Nanti kita terjun lagi”, kata komandanku yang mengajak sholat zuhur tepat pada waktunya di dekat rumah Mbah Wati.
Padahal sebenarnya aku sering menunda sholatku. Bahkan aku terkadang meninggalkan sholat karena tugas. Namun, pada hari itu hatiku takjub dengan tangis seorang perempuan yang khusyuk dalam sholatnya. Perempuan yang dulu ku benci karena pakaiannya yang ku anggap fanatic dan bersifat ke-arab-an.
Setelah sholat, perempuan itu masuk ke perkampungan mbah Wati. Bukan hanya menuju desa Besowo. Lebih dari itu, gadis itu malah masuk ke salah satu rumah warga, rumah kakeknya yaitu mbah Pras. Ya, dialah cucu mbah Wati yang selama ini di ceritakan.
***
25 Februari 2014
“mas, bisa ngobrol bentar gak ?”, pintaku ke salah satu pemuda yang menurutku usianya sama denganku.
Pemuda itu memakai celana jeans dan jaket kulit coklat. Namun anehnya, dia menggandeng seorang gadis berkerudung besar dengan gamis yang terulur ke seluruh tubuhnya yang tidak lain adalah istrinya. Aku penasaran dengan mas Bagus (nama panggilnya) bagaimana dia bisa mendapatkan istri seperti itu.
“berarti, kita benar-benar harus memantaskan diri untuk jadi imamnya ya mas? Wah, say a baca qur’an aja masih iqro empat. Apa mungkin saya jadi imamnya?”, tanyaku penasaraan.
Akhirnya, sambil menunggu istrinya berbelanja, mas Agus menceritakan semua pengalamannya tentang pencarian jati dirinya hingga ia memutuskan untuk meminang gadis pujaannya. Bukan hanya itu, mas Agus bahkan bersedia menjadi guruku untuk menjadi muslim sejati.
Ya, sejak bertemu dengan mas Agus, aku memutuskan untuk menjadi hamba yang terbaik di hadapan Allah. Meskipun aku masih menjadi bagian TNI AD, aku berusaha untuk tidak meninggalkan kewajibanku dalam ibadah. Aku juga mulai memahami Islam lebih dalam termasuk mencoba memahami pentingnya dakwah kepada teman-teman TNI yang mungkin masih lalai dalam ibadahnya.
***
1 Maret 2014 dalam sebuah diari
Gue sekarang udah tobat, men. Gue bertahan dengan jomblo gue untuk dapat ridho Allah dan mungkin gadis yang gue impikan. Ya, udah lima hari yang lalu gue berenti ngejar-ngejar cucu mbah Wati yang gak pernah bales SMS gue. Meskipun awalnya gue benci sama sikapnya, tapi sekarang gue tau kenapa dia begitu. Kini, gue Cuma mau berusaha jadi orang yang terbaik dihadapan Allah sampai suatu hari nanti, gue akan siap berkata… “ku pinang kau dengan bismillah”.
hidup adalah perjuangan untuk menuju jalan yang diridhoi allah so "Selalu LAKUHKAN yang TerBAIK BWT Allah"
Kamis, 27 Maret 2014
ASMARA BERKELUD
ASMARA BERKELUD
28 Februari 2014 dalam sebuah diari
Nama gue Soni. Gue lahir 25 tahun lalu di kota Jakarta. Tapi anehnya gue sekarang tinggal di Malang. Ya, itu semua karena bokap gue pindah dinas. Sekarang, nasib gue sama kayak bokap. Gue ngikutin jejak beliau jadi salah satu TNI AD yang bertugas di Malang. Selama tugas, gue ngerasa gak ada yang special dari tugas gue. Sampe akhirnya, gue tersesat di Kediri, tepatnya di pengungsian warga yang terkena musibah Gunung Kelud.
***
16 Februari 2014
Dua hari pasca meletusnya gunung Kelud. Ratusan TNI AD di terjunkan untuk membantu warga membersihkan sisa-sisa pasir dan abu vulkanik yang menghalangi jalan dan rumah mereka. Rita Amalia melaporkan.
“mbah, ini sudah selesai semua”, kataku setelah membantu mbah Wati dan mbah Pras membersihkan rumah mereka dari pasir dan abu vulkanik.
Ya, aku sudah dua hari ini menginap di rumah mbah Wati dan Mbah Pras salah satu pasangan suami istri di desa Besowo Kepung Kediri. Awalnya aku kurang nyaman dengan kondisi rumah mereka yang ala kadarnya. Tapi, setelah mendengarkan semua cerita mereka tentang keluarga mereka dan warga sekitar, ada yang menarik hatiku.
Ya, aku tertarik dengan salah satu warga sekitar yang tidak lain adalah cucu perempuan mbah Wati.
***
17 Februari 2014
“soni, ayo solat dulu. Nanti kita terjun lagi”, kata komandanku yang mengajak sholat zuhur tepat pada waktunya di dekat rumah Mbah Wati.
Padahal sebenarnya aku sering menunda sholatku. Bahkan aku terkadang meninggalkan sholat karena tugas. Namun, pada hari itu hatiku takjub dengan tangis seorang perempuan yang khusyuk dalam sholatnya. Perempuan yang dulu ku benci karena pakaiannya yang ku anggap fanatic dan bersifat ke-arab-an.
Setelah sholat, perempuan itu masuk ke perkampungan mbah Wati. Bukan hanya menuju desa Besowo. Lebih dari itu, gadis itu malah masuk ke salah satu rumah warga, rumah kakeknya yaitu mbah Pras. Ya, dialah cucu mbah Wati yang selama ini di ceritakan.
***
25 Februari 2014
“mas, bisa ngobrol bentar gak ?”, pintaku ke salah satu pemuda yang menurutku usianya sama denganku.
Pemuda itu memakai celana jeans dan jaket kulit coklat. Namun anehnya, dia menggandeng seorang gadis berkerudung besar dengan gamis yang terulur ke seluruh tubuhnya yang tidak lain adalah istrinya. Aku penasaran dengan mas Bagus (nama panggilnya) bagaimana dia bisa mendapatkan istri seperti itu.
“berarti, kita benar-benar harus memantaskan diri untuk jadi imamnya ya mas? Wah, say a baca qur’an aja masih iqro empat. Apa mungkin saya jadi imamnya?”, tanyaku penasaraan.
Akhirnya, sambil menunggu istrinya berbelanja, mas Agus menceritakan semua pengalamannya tentang pencarian jati dirinya hingga ia memutuskan untuk meminang gadis pujaannya. Bukan hanya itu, mas Agus bahkan bersedia menjadi guruku untuk menjadi muslim sejati.
Ya, sejak bertemu dengan mas Agus, aku memutuskan untuk menjadi hamba yang terbaik di hadapan Allah. Meskipun aku masih menjadi bagian TNI AD, aku berusaha untuk tidak meninggalkan kewajibanku dalam ibadah. Aku juga mulai memahami Islam lebih dalam termasuk mencoba memahami pentingnya dakwah kepada teman-teman TNI yang mungkin masih lalai dalam ibadahnya.
***
1 Maret 2014 dalam sebuah diari
Gue sekarang udah tobat, men. Gue bertahan dengan jomblo gue untuk dapat ridho Allah dan mungkin gadis yang gue impikan. Ya, udah lima hari yang lalu gue berenti ngejar-ngejar cucu mbah Wati yang gak pernah bales SMS gue. Meskipun awalnya gue benci sama sikapnya, tapi sekarang gue tau kenapa dia begitu. Kini, gue Cuma mau berusaha jadi orang yang terbaik dihadapan Allah sampai suatu hari nanti, gue akan siap berkata… “ku pinang kau dengan bismillah”.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar