Kamis, 27 Maret 2014

CAK MAL

CAK MAL “Alhamdulillah, akhirnya pindah rumah juga. Semoga rumah yang ini bebas banjir, bebas tikus dan…”, ujar Maya selaku ketua rombongan. “bebas hutang!”, sambut Ira. “yup, ayo… kita beres-beres trus kita silahturahmi ke tetangga-tetangga baru”, Mia pun menimpali. Sedangkan Aisyah, Desi dan Sari hanya bisa tersenyum dan mengikuti kakak kelas mereka masuk ke rumah. *** Ya, mereka berenam adalah sebagian dari kumpulan mahasiswi yang sering pindah rumah karena kontrak rumah habis atau kondisinya yang kurang layak di kota Surabaya. Namun, di kontrakan yang baru ini, mereka baru menyadari bahwa mereka mendapatkan tetangga spesial yang tidak akan mereka lupakan. *** “kak, tahu gak? Tetangga kita yang di depan tuh, Alhamdulillah orangnya sholeh-sholeh. Jadi, kita aman deh dari gangguan”, kata Aisyah pada suatu hari. “iya, kak. Mereka tuh selalu ikut sholat jamaah masjid depan, rajin baca qur’an tiap abis subuh dan magrib. Yang paling penting, mereka juga menundukkan pandangan en jomblo juga lho kak. Kayak kita gitu. hehehe”, sambung Sari. Tapi Ira sebagai orang tertua kedua karena sudah semester 6 hanya diam. Dia diam bukan karena tidak sepakat. Tapi dia diam karena tidak ingin salah tingkah di depan adik-adik kelas semester 2. Meskipun dia sendiri mengakui kebenaran cerita Sari. *** “hei, Ira. Aku tadi malu…. Banget. Masa’ tadi waktu aku beli gorengan di ibu depan, aku diliatin terus sama tetangga kita. Saking groginya, keringetku jatuh bercucuran”, kata Maya mahasiswi jurusan Biologi semester 8. Namun Ira tidak begitu menanggapinya karena sibuk dengan makalah sosiologinya. Pasca Maya menyampaikan uneg-uneg nya, tak lama kemudian terdengar suara cukup gaduh di teras rumah mereka. Rupanya Desi dan Mia sedang adu argumen dengan tetangga baru mereka. Ya, tetangga itu adalah rombongan mahasiswa Malaysia yang mendapatkan beasiswa di kampus mereka. Tetangga itu adalah orang yang selama ini mereka bicarakan karena kesholihannya. Maya dan Ira segera keluar dan mengingatkan Desi dan Mia agar segera masuk rumah. Di rumah itulah keduanya menceritakan penyebab mereka beradu argumen. Keduanya tidak terima ketika sebagian mahasiswa Malaysia menuduh mereka telah merebut kontrakan yanag kini mereka tempati. Sebab, rumah itu akan ditempati oleh adik kelas mahasiswa Malaysia. Padahal, menurut pemilik rumah, tidak ada kesepakatan dengan siapapun sebelum Maya mengontrak. *** “kak, Aisyah sekarang benci banget sama tetangga kita. Masa’ tadi di kampus, Aisy di liatin terus sama sebagian anak Malaysia. Risih banget tau kak”, ujar Aisyah sepulang kuliah. “iya, kak. Mereka juga kemarin gak mau ngalah pas aku jalan ke gang kita. Sampai aku merasa terpojokkan”, akhirnya Ira angkat suara. Maya yang saat itu sedang membaca buku, akhirnya memikirkan beberapa siasat untuk menenangkan anggota rumahnya. *** “oke, semuanya sepakat kan kalo kita akan sebut mereka dengan nama cak mal”, kata Maya penuh semangat ketika rapat rumah mereka usai. “setuju…”, yang lain ikut semangat. “ayo teman-teman. Kita buktikan kepada Allah dan Rosulnya serta mereka. Kalo kita adalah jomblo berkualitas. Mungkin orang bisa kagum sama mereka, tapi kita harus lebih sholih dari apa yang mereka pikirkan. Setuju???”, teriak Mia. Ya, akhirnya setelah rapat rumah malam itu, Maya, Ira, Mia, dan ketiga adik kelas mereka bertekad untuk menghilangkan pikiran mereka dari orang-orang yang mereka sebut “cak Mal”. Mereka lalu memfokuskan diri untuk memperbaiki dan melayakkan diri dihadapan Allah dan RosulNya. Mereka lebih rajin belajar kuliah, dakwah dan memperbaiki kepribadian Islam mereka. Berusaha bersaing dengan mahasiswa dan mahasiswi lain termasuk bersaing dengan orang-orang yang mereka sebut “Cak Mal

Tidak ada komentar:

Posting Komentar